Serangan gerilya Palestina ke Israel dan pembalasan militer Israel terhadap target-target di Lebanon meningkat selama dekade 1970-an, yang menyebabkan banyak warga Lebanon melarikan diri dari selatan negara mereka. Hal tersebut memperburuk ketegangan sektarian di Lebanon, yang memicu dimulainya perang saudara di negeri itu.
Israel menginvasi Lebanon Selatan dan mendirikan zona pendudukan sempit dalam operasi melawan gerilyawan Palestina menyusul serangan para pejuang Palestina di dekat Tel Aviv. Israel mendukung milisi Kristen setempat yang disebut Tentara Lebanon Selatan (SLA).
Israel menyerbu Lebanon hingga ke Beirut dalam sebuah serangan yang diikuti dengan tembakan balasan di perbatasan. Ribuan pejuang Palestina dievakuasi melalui laut setelah pengepungan berdarah selama 10 minggu di ibu kota Lebanon yang melibatkan pemboman besar-besaran oleh Israel di Beirut Barat.
Ratusan warga sipil di kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila dibantai oleh milisi Kristen yang diizinkan masuk oleh pasukan Israel setelah presiden Katolik Maronit Lebanon yang baru terpilih terbunuh oleh bom mobil.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mendirikan kelompok bersenjata Syiah Hizbullah di Lebanon untuk melawan invasi Israel.