Di balik perlombaan tersebut, tersimpan kepentingan strategis dan ekonomi. Para pengamat menyebut Bulan berpotensi menjadi “ladang emas” masa depan. NASA memperkirakan terdapat sekitar 1 juta ton Helium-3 di permukaan Bulan. Isotop langka ini hampir tidak ditemukan di Bumi dan diyakini dapat menjadi bahan bakar reaktor fusi nuklir di masa depan.
Tak hanya itu, Bulan juga menyimpan logam tanah jarang seperti skandium, ittrium, dan berbagai lantanida, material vital bagi industri teknologi tinggi, mulai dari ponsel pintar hingga perangkat elektronik canggih. Penguasaan sumber daya ini bisa menjadi keunggulan ekonomi dan geopolitik di masa depan.
Aspek prestise dan kekuatan global turut menjadi pendorong. Rusia, yang pernah berjaya sejak Yuri Gagarin menjadi manusia pertama di luar angkasa pada 1961, kini berupaya mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dan China. Kegagalan misi Luna-25 pada 2023 menjadi pukulan, namun proyek besar seperti PLTN di Bulan dipandang sebagai momentum kebangkitan.
Meski aturan internasional melarang penempatan senjata nuklir di luar angkasa, pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir diperbolehkan dengan syarat tertentu. Celah inilah yang dimanfaatkan negara-negara besar untuk mengamankan pasokan energi bagi pangkalan Bulan mereka.
Dengan energi, sumber daya, dan gengsi global sebagai taruhannya, Bulan bukan lagi sekadar objek penelitian ilmiah. Dia kini menjadi medan persaingan baru kekuatan dunia, dan perlombaan ini baru saja dimulai.