Dia juga menyebut Paus Leo sebagai sosok yang lemah dalam kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri. Menanggapi itu, Paus Leo menegaskan, gereja tidak melihat isu kebijakan luar negeri dari perspektif politik, melainkan sebagai upaya membangun perdamaian.
Setibanya di Aljir, Paus Leo kembali menegaskan pentingnya rekonsiliasi di tengah konflik global. Dia memperingatkan, dunia tidak boleh terus menumpuk kebencian di tengah meningkatnya konflik bersenjata.
Paus Leo sebelumnya juga mengkritik ancaman Trump untuk menghapus peradaban Iran dengan menegaskan serangan terhadap infrastruktur sipil melanggar hukum internasional. Dia bahkan menyerukan masyarakat untuk menekan para pemimpin politik agar mendorong perdamaian.
Kritik Trump terhadap Paus Leo menuai reaksi dari kalangan Gereja Katolik di Amerika Serikat. Uskup Agung Paul Coakley mengungkap kekecewaannya atas pernyataan tersebut dan menegaskan Paus bukanlah rival politik, melainkan pemimpin spiritual yang berbicara berdasarkan ajaran Injil.
Meski kini berseteru, Trump sebelumnya sempat menyambut terpilihnya Paus Leo menjadi paus asal Amerika pertama sebagai kehormatan besar bagi negaranya. Namun, hubungan keduanya kini tampak memanas seiring perbedaan pandangan terkait perang dan kebijakan global.
Survei NBC News pada Maret menunjukkan Paus Leo lebih dipandang positif oleh publik AS dibandingkan Trump. Sebanyak 42 persen responden memiliki pandangan positif terhadap paus, sementara hanya 8 persen yang berpandangan negatif. Sebaliknya, Trump mendapat penilaian positif dari 41 persen responden dan negatif dari 53 persen.