"Pembukaan Yeni Cami untuk ibadah Ramadhan memberikan pesan yang sangat baik, yaitu tidak ada kontradiksi sebagai umat Islam dan warga negara. Tidak ada kontradiksi antara membuka tempat bersejarah sekaligus bangga dengan sejarah negara dan kemerdekaannya,” kata Taha Abdelgalil, imam masjid.
Yeni Cami terdiri atas dua lantai. Arsitekturnya menggabungkan tradisi Islam dengan tren peralihan abad sebelumnya, mengacu pada ajaran Yahudi sebelumnya dari penduduk asli. Motif bintang David menghiasi balkon luar dan sebagian besar interiornya.
Bangunan sempat dipugar pada 1986 dengan menambahkan menara jam di sudut-sudutnya.
Sekitar 70 jemaah mengikuti Shalat Idul Fitri pada Rabu kemarin. Mereka terdiri atas warga lokal, turis asal Turki, serta pendatang termasuk mahasiswa asal Indonesia, Prasherly Anura Dinda (21).
Dia baru mengetahui sejarah bangunan tersebut. Prasherly senang akhirnya kota tempat dia menyelesaikan gelar master tersebut memiliki masjid, terlebih lagi untuk aktivitas Ramadhan.