Sebagai respons, tiga kelompok etnis, yakni Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar, Tentara Arakan, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang, mengeluarkan pernyataan bersama mendesak militer untuk berhenti membunuh pengunjuk rasa dan menyelesaikan masalah politik dengan damai.
Jika tidak dipenuhi, mereka akan bekerja sama dengan semua anak bangsa melakukan demi mempertahankan diri.
Pemberontak dari berbagai kelompok etnis sudah berperang dengan pemerintah pusat selama puluhan tahun demi memperjuangkan otonomi lebih luas. Meski banyak kelompok setuju untuk gencatan senjata, pertempuran tetap berkobar dalam beberapa hari terakhir.
Bentrokan besar meletus pada akhir pekan di dekat perbatasan Thailand antara pasukan junta militer dengan pejuang etnis minoritas Persatuan Nasional Karen (KNU).
Akibatnya sekitar 3.000 warga desa melarikan diri ke Thailand untuk menghindari gempuran jet-jet tempur pasukan Myanmar ke daerah-daerah yang dikuasai KNU.