"Awalnya, mereka tidak memiliki peralatan tes (Covid-19) dan saat mereka mendapatkannya, mereka tidak menggunakannya tak cukup luas," kata dokter dengan nama samaran Pouladi.
"Posisi petugas keamanan tidak untuk mengakui keberadaan virus corona di Iran," lanjutnya.
Kenapa Iran Menutupi Data Tersebut?
Sebelum pandemi Covid-19 menghantam Iran, negara tersebut tengah mengalami sejumlah krisis. Mulai dari embargo senjata, perdagangan, sampai kasus penyerangan Jenderal Qasem Soleimani yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat.
Pemerintah Iran khawatir informasi masifnya penularan Covid-19 justru akan memicu ketidakstabilan dalam negeri.
"Pemerintah Iran cemas dan takut mengenai kebenaran Covid-19. Pemerintah khawatir orang-orang miskin dan pengangguran akan membanjiri jalanan," ujar Dr Nouroldin Pirmoazzen, mantan pegawai Kemenkes Iran.
Pada Juni lalu, dalam pidatonya yang disiarkan jaringan televisi lokal, Presiden Iran Hassan Rouhani melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menyebut 25 juta penduduk Iran telah terinfeksi Covid-19 serta 35 juta lainnya berisiko terjangkit.
Angka 25 juta sama dengan sepertiga dari populasi Iran, dan lebih tinggi daripada jumlah resmi kasus Covid-19 di negara itu yang tercatat 273.788 dengan 14.188 kematian.