Hal yang mengejutkan, laporan mengungkap, semua pengeluaran itu tidak diarahkan untuk mencegah konflik dan ketegangan geopolitik di Eropa baru-baru ini.
“Kami mendapat informasi, miliaran yang diinvestasikan untuk ribuan senjata pemusnah massal yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan dunia berkali-kali lipat adalah harga yang harus dibayar untuk perdamaian di Eropa. Sebaliknya, miliaran itu masuk ke kantong orang-orang kuat yang mendapat untung dari produksi senjata pemusnah massal,” demikian isi laporan.
Para peneliti juga mengungkap, laporan itu menunjukkan bahwa senjata nuklir tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena mereka gagal untuk mencegah konflik di Eropa.
“Inilah mengapa kita perlu melakukan perlucutan senjata multilateral lebih dari daripada sebelumnya. Pertemuan pertama negara-negara anggota Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir di Wina (21-23 Juni) tidak bisa datang pada waktu yang lebih baik," kata Koordinator Kebijakan dan Penelitian ICAN, Alicia Sanders-Zakre.
ICAN merupakan koalisi internasional yang berbasis di Jenewa, Swiss, peraih Hadiah Nobel Perdamaian. Kelompok ini aktif mengampanyekan implementasi penuh dari Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir yang membantu PBB mengadopsinya pada 2017. Perjanjian tersebut sejauh ini telah diratifikasi oleh 59 negara, namun belum ada satu pun dari sembilan pemilik nuklir yang menandatanganinya.