Di posisi selanjutnya Inggris menghabiskan 6,8 miliar dolar, Prancis 5,9 miliar dolar, kemudian India, Israel, dan Pakistan masing-masing menghabiskan 1 miliar dolar lebih sedikit. Di posisi terakhir Korut yang menghabiskan 642 juta dolar.
Laporan tersebut juga mempertanyakan mengapa dan bagaimana sembilan negara itu bisa menghabiskan begitu banyak uang untuk senjata nuklir di tengah deraan berbagai permasalahan global seperti kekurangan pangan dan energi.
ICAN sampai pada kesimpulan bahwa dorongan terbesar pengeluaran senjata nuklir bukan pada masalah keamanan yang pelik, melainkan bisnis.
Disebutkan beberapa kontraktor militer AS tertentu diduga meraup banyak untung dari kontrak senjata nuklir. Perusahaan-perusahaan tersebut diduga juga menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk membayar jasa pelobi dan mendanai think tank guna meyakinkan para politisi untuk membelanjakan lebih banyak uang negara untuk senjata pemusnah massal.
“Perusahaan-perusahaan itu kemudian berbalik dan menghabiskan 117 juta dolar untuk melobi pembuat keputusan agar menghabiskan lebih banyak uang untuk pertahanan. Mereka juga menghabiskan hingga 10 juta dolar untuk mendanai banyak think tank yang meneliti dan menulis tentang solusi kebijakan tentang senjata nuklir,” bunyi laporan.