Langkah itu diambil OPEC+ sebagai tanggapan atas ketidakpastian dalam prospek pasar minyak global. Sebagian ketidakpastian itu justru disebabkan oleh sanksi Barat (AS dan sekutunya) sendiri terhadap penjualan produk energi Rusia, ditambah lagi dengan rencana G7 (Kelompok Tujuh) untuk menerapkan pembatasan harga minyak mentah Rusia.
Keputusan OPEC+ menuai reaksi keras dari Amerika Serikat. Presiden Joe Biden bahkan mengancam bakal ada konsekuensi pada hubungan AS dan Arab Saudi pascakeputusan pemangkasan produksi minyak oleh organisasi itu. Sebelumnya, Washington DC memang mencoba memaksa negara-negara OPEC, termasuk Arab Saudi sendiri, agar meningkatkan produksi mereka untuk melawan kenaikan harga minyak domestik.
Mesir pun menyuarakan keprihatinan bahwa keputusan OPEC+ untuk memangkas produksi minyak dapat mengguncang pasar energi global.
“Konsekuensi dari keputusan OPEC+ dapat mengakibatkan gejolak di pasar energi, yang mungkin dapat meningkat karena embargo yang dikenakan pada ekspor minyak Rusia dan Iran dan keengganan produsen AS untuk meningkatkan tingkat produksi untuk mempertahankan harga,” ungkap Pemerintah Mesir dalam pernyataan resminya.
Pada 2020, sebanyak 23 negara—termasuk anggota OPEC dan 10 produsen minyak non-kartel—mencapai kesepakatan untuk secara sukarela memangkas produksi di tengah penurunan tajam permintaan minyak akibat pandemi Covid-19. Setelah dicapaai kesepakatan awal untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari, kesepakatan itu berulang kali direvisi agar sesuai dengan kondisi pasar.
OPEC+ untuk pertama kalinya mencapai tingkat produksi minyak mereka seperti di level masa pra-pandemi lagi pada Agustus lalu.
Pada 6 Oktober, Uni Eropa menerbitkan paket sanksi baru terhadap Rusia. Blok Benua Biru itu menetapkan kerangka kerja untuk membatasi harga ekspor minyak Rusia mulai Desember sesuai dengan level yang diinginkan oleh G7.