Di dalam usaha menggapai kesuksesan duniawi, apakah itu dalam hal harta, pangkat, jabatan, popularitas maupun pengaruh, hal ini antara lain ditandai bahwa mereka tidak lagi peduli mana yang halal dan mana yang haram.
Semua cara ditempuh, yang penting tujuan-tujuan itu tercapai. Jenis manusia di atas adalah manusia yang sudah mengeluarkan biaya besar untuk melaksanakan ibadah haji, mengorbankan waktu, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan keluarga dan meninggalkan kampung halamannya, lalu berihram, thawaf, sya’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain dari ritual haji yang sangat melelahkan dan menguras tenaga, namun semua itu sia-sia di mata Allah SWT. Alih-alih mendapatkan surga sebagai ganjaran hajinya, justru jalan menuju ke neraka yang pada hakikatnya sedang ia tempuh.
Karakter kedua dari sebagian jama’ah haji adalah sebagaimana yang Allah SWT sebutkan di dalam firman selanjutnya, yaitu ayat 201 dari Surah al-Baqarah:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”