Dalam studi tersebut, angka gangguan kecemasan meningkat hingga 158 persen sejak 1990, sementara depresi naik 131 persen secara global.
Penulis utama penelitian, Dr. Damian Santomauro dari University of Queensland Australia, menyebut anak muda saat ini menghadapi tekanan hidup yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Selain pengaruh media sosial, faktor lain seperti tekanan akademik, ketidakpastian ekonomi, konflik sosial, hingga dampak pandemi Covid-19 juga ikut memperburuk kondisi mental Gen Z.
Pandemi disebut meninggalkan dampak psikologis jangka panjang akibat isolasi sosial, perubahan pola belajar, dan berkurangnya interaksi langsung selama beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, para ahli juga menilai meningkatnya angka gangguan mental pada Gen Z dipengaruhi oleh kesadaran yang semakin tinggi terhadap kesehatan mental.
Jika dulu banyak orang memilih diam karena takut stigma, kini generasi muda cenderung lebih terbuka untuk mencari bantuan dan membicarakan kondisi psikologis mereka.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kesehatan mental anak muda tetap perlu menjadi perhatian serius.