"Risiko kematian lebih tinggi, 2-5 kali lipat dibandingkan ibu hamil usia 20-39 tahun," tulisnya.
Selain membahayakan ibu, kehamilan di usia sekolah juga berdampak terhadap kondisi janin. Bayi yang dikandung berisiko lahir prematur serta mengalami gangguan pertumbuhan di dalam kandungan, terutama apabila asupan gizi ibu tidak mencukupi selama masa kehamilan.
Tak hanya dari sisi kesehatan fisik, dr. Adam juga menyoroti dampak psikologis yang kerap dialami ibu muda. Salah satunya adalah meningkatnya risiko depresi setelah melahirkan, terutama apabila tidak memperoleh dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Dia menambahkan kehamilan di usia sekolah juga dapat memengaruhi masa depan remaja. Banyak ibu muda yang akhirnya menghentikan pendidikan sehingga kesempatan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik menjadi semakin terbatas.
Sebab itu, dr Adam mengajak masyarakat, khususnya remaja, untuk tidak menganggap kehamilan sebagai jalan pintas dibandingkan menempuh pendidikan. Menurutnya, pendidikan tetap menjadi bekal penting untuk membangun masa depan yang lebih baik.
"Jadi masih mikir mendingan hamil aja dibandingkan sekolah?!" katanya.