Miris! 21 Juta Remaja Perempuan Hamil di Negara Berkembang, Ini Bahayanya
JAKARTA, iNews.id – Isu kesehatan perempuan menjadi sorotan utama di Hari Kartini yang dirayakan hari ini, Selasa 21 April 2026. Salah satu masalah yang banyak ditemukan di kelompok perempuan adalah kehamilan di usia remaja.
Menurut Eks Direktur WHO Prof Tjandra Yoga Aditama, masalah kehamilan pada remaja ini banyak terjadi di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Fenomena ini terbukti menjadi beban kesehatan global, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Data mengejutkan dari WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2019 saja, diperkirakan terjadi 21 juta kehamilan pada remaja perempuan berusia 15–19 tahun. Angka ini mencerminkan adanya hambatan besar dalam akses informasi kesehatan reproduksi dan layanan kontrasepsi bagi kelompok muda.
"Sekitar 50% dari kehamilan remaja ini sebenarnya tidak direncanakan. Ini adalah angka yang sangat besar dan memiliki dampak domino yang luar biasa terhadap kesehatan masyarakat," papar Prof Tjandra kepada iNews.id, Selasa (21/4/2026).
7 Remaja Putri Digerebek Pesta Miras di Lampung, 3 Orang Mengaku Penyuka Sesama Jenis
Secara medis, kehamilan pada usia terlalu dini menempatkan sang ibu pada risiko tinggi. Tubuh remaja seringkali belum siap secara biologis untuk memikul beban kehamilan. Risiko seperti anemia, preeklamsia, hingga persalinan prematur menjadi ancaman nyata yang bisa berujung pada kematian ibu maupun bayi.