SURABAYA, iNews.id - Warga desa di Kabupaten Tuban, Jawa Timur mendadak menjadi miliarder setelah memperoleh ganti untung pembebasan lahan. Sejumlah desa di daerah itu terdampak proyek kilang petrokimia dan minyak.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut, proyek patungan antara Pertamina dan Rosneft, perusahaan asal Rusia di Tuban mangkrak selama empat tahun. Penyebabnya tak lain karena pembebasan lahan yang berlarut-larut.
Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) tersebut mengatakan, proyek joint venture senilai lebih dari Rp200 triliun itu membutuhkan lahan seluas 800 hektare (ha) yang belum dibebaskan. Bahlil terjun langsung mengatasi masalah tersebut.
"Terpaksa saya datangi dengan cara Hipmi. Saya datangi Tuban, pakai sarung, minum kopi, tidak pakai protokol. Kita selesaikan. Makanya ada desa miliuner itu. Itu akibat dari bayar tanah. Bukan ganti rugi tapi ganti untung. Itu transparan dan kita awasi. Dan menyelesaikan urusan tanah di Indonesia, kampusnya di HIPMI," katanya, Kamis (25/3/2021).
Sebelumnya, warga Tuban viral usai beredar video di media sosial yang menggambarkan rombongan mobil baru dari dealer diangkut masuk desa. Mereka memborong mobil setelah memperoleh ganti untung dari pembebasan lahan.
Nilai tanah warga dibeli antara Rp600.000-Rp800.000 per meter, jauh di atas harga pasar yang berada di kisaran Rp100.000-Rp150.000 per meter. Dari penjualan tanah, mereka memperoleh uang paling sedikit Rp28 juta.
Namun, sebagian besar dari mereka rata-rata mendapat Rp8-Rp10 miliar. Bahkan, ada satu warga yang menjual lahan 4 ha dan menerima Rp26 miliar.