Pengelola Gunung Kawi Minta Publik Berhenti Percaya Stigma Pesugihan, Bukan Tempat Ditakuti!
“Di sinilah nilai-nilai luhur tetap terjaga, diwariskan, dan terus hidup dari generasi ke generasi. Bagi kami, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah,” tulisnya.
Menurut pengelola, anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan terus berulang hingga akhirnya dipercaya banyak orang. Padahal, mereka menilai stigma tersebut tidak mencerminkan sejarah maupun kehidupan masyarakat yang telah lama menjaga kawasan wisata religi tersebut.
“Lalu muncul satu anggapan yang terus diulang: 'Gunung Kawi adalah tempat pesugihan.' Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di sini, kalimat itu selalu terasa berat,” kata pengelola.
Meski membantah anggapan tersebut, pengelola tidak menutup kemungkinan ada pihak luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu. Namun, mereka menegaskan hal itu tidak mewakili nilai dan tradisi yang selama ini dijaga oleh masyarakat setempat.
Di akhir pernyataannya, pengelola berharap masyarakat mulai melihat Gunung Kawi secara lebih utuh sebagai destinasi wisata religi yang memiliki sejarah panjang dan warisan budaya. Mereka juga mengajak publik tidak mudah mempercayai stigma yang berkembang tanpa memahami fakta di baliknya.
“Sudah saatnya cerita tentang Gunung Kawi ditulis kembali. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengajak semua orang melihat Gunung Kawi dari sudut pandang yang lebih utuh,” tulis pengelola Gunung Kawi.
Editor: Dani M Dahwilani