Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bantah Stigma Tempat Pesugihan, Gunung Kawi Disebut Destinasi Wisata Religi dan Budaya
Advertisement . Scroll to see content

Pengelola Gunung Kawi Minta Publik Berhenti Percaya Stigma Pesugihan, Bukan Tempat Ditakuti!

Sabtu, 04 Juli 2026 - 20:13:00 WIB
Pengelola Gunung Kawi Minta Publik Berhenti Percaya Stigma Pesugihan, Bukan Tempat Ditakuti!
Pengelola wisata religi Gunung Kawi meminta masyarakat berhenti mempercayai stigma yang menyebut kawasan tersebut sebagai tempat pesugihan. (Foto: Instagram Gunung Kawi Story)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Pengelola wisata religi Gunung Kawi meminta masyarakat berhenti mempercayai stigma yang menyebut kawasan tersebut sebagai tempat pesugihan. Permintaan itu disampaikan setelah nama Gunung Kawi kembali ramai diperbincangkan di media sosial dan dikaitkan dengan isu pesugihan yang menyeret salah satu artis.

Melalui unggahan resmi di akun Instagram @gunungkawistory, pengelola menegaskan bahwa Gunung Kawi sejak lama dikenal sebagai destinasi wisata religi. Kawasan tersebut menjadi tempat masyarakat berdoa, berziarah, dan mengungkapkan rasa syukur, bukan seperti anggapan yang berkembang di media sosial.

“Sebagai tempat berdoa, bukan tempat yang ditakuti,” tulis pengelola dalam pernyataan tersebut.

Pengelola menjelaskan, jauh sebelum media sosial dipenuhi berbagai konten sensasional, Gunung Kawi telah didatangi ribuan peziarah dari berbagai daerah. Kehadiran mereka turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar, mulai dari pedagang bunga, pemilik warung, pengelola penginapan, hingga sopir angkutan.

Selain menjadi tempat ibadah dan ziarah, Gunung Kawi juga disebut menyimpan nilai budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, pengelola menyayangkan citra kawasan tersebut perlahan berubah akibat narasi yang terus beredar di media sosial.

“Di sinilah nilai-nilai luhur tetap terjaga, diwariskan, dan terus hidup dari generasi ke generasi. Bagi kami, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah,” tulisnya.

Menurut pengelola, anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan terus berulang hingga akhirnya dipercaya banyak orang. Padahal, mereka menilai stigma tersebut tidak mencerminkan sejarah maupun kehidupan masyarakat yang telah lama menjaga kawasan wisata religi tersebut.

“Lalu muncul satu anggapan yang terus diulang: 'Gunung Kawi adalah tempat pesugihan.' Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di sini, kalimat itu selalu terasa berat,” kata pengelola.

Meski membantah anggapan tersebut, pengelola tidak menutup kemungkinan ada pihak luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu. Namun, mereka menegaskan hal itu tidak mewakili nilai dan tradisi yang selama ini dijaga oleh masyarakat setempat.

Di akhir pernyataannya, pengelola berharap masyarakat mulai melihat Gunung Kawi secara lebih utuh sebagai destinasi wisata religi yang memiliki sejarah panjang dan warisan budaya. Mereka juga mengajak publik tidak mudah mempercayai stigma yang berkembang tanpa memahami fakta di baliknya.

“Sudah saatnya cerita tentang Gunung Kawi ditulis kembali. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengajak semua orang melihat Gunung Kawi dari sudut pandang yang lebih utuh,” tulis pengelola Gunung Kawi.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut