Ini Kata Pakar Geologi UGM soal Fenomena Tanah Bergerak di Sigi-Palu
Kondisi itu diperparah dengan besarnya kekuatan magnitude gempa mencapai 7,4 SR yang mengguncang wilayah Palu dan Donggala. Wilayah ini memang menjadi titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia.
"Wilayah itu ada di zona benturan tiga lempeng besar dunia, jadi rawan terjadi gempa,” ucapnya.
Pergerakan dan pergeseran lempeng-lempeng ini yang mendorong pergerakan sesar geser Palu Koro sehingga mengakibatkan terjadinya gempa pada Jumat (28/9/2018). Sesar ini tergolong aktif karena pergerakannya mencapai 45 milimeter per tahun.
Subagyo menuturkan, sebenarnya gempa di Sulawesi ini mekanismenya sesar geser tidak menimbulkan perubahan volume air laut. Kemungkinan tsunami muncul karena adanya longsoran sedimen di bawah laut yang cukup besar dan muncul akibat pergeseran lempeng.
"Posisi Palu ada di ujung teluk yang sempit. Bentuk teluk yang menyempit ke daratan menjadikan gelombang tsunami mengarah ke Kota Palu,” tuturnya.