Ini Kata Pakar Geologi UGM soal Fenomena Tanah Bergerak di Sigi-Palu
YOGYAKARTA, iNews.id – Fenomena tanah bergerak atau Likuifaksi yang terjadi usai gempa di Kabupaten Sigi dan Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi perhatian publik. Bencana mengerikan itu belum banyak diketahui masyarakat padahal memiliki dampak kerusakan yang sangat massif.
Ahli Geologi UGM Prof Subagyo Pramumijoyo mengatakan, fenomena likuifaksi yang terjadi daerah Sigi karena kondisi tanah di wilayah tersebut merupakan tanah berpasir. Saat terjadi gempa, tanah berpasir itu tercampur dengan air di bagian bawah sehingga melarut dan akhirnya menerobos rekahan di permukaan.
“Penjelasan sederhananya, tanahnya itu melarut dengan air di bawah dan menerobos rekahan hingga ke permukaan,” kata Subagyo, Rabu (3/10/2018).
Dia menjelaskan, sebenarnya penelitian terhadap kontur tanah di Sulawesi sudah dilakukan sejak 2005 silam. Sepanjang Teluk Palu merupakan wilayah yang memiliki tanah dengan kontur berpasir yang rentan terjadi likuifaksi. Ketebalan sedimen mencapai 170 meter sehingga tidak aman untuk dijadikan tempat tinggal.
“Karena berpotensi terjadi likuifaksi saat terjadi gempa, daerah ini tidak aman untuk tempat tinggal,” ujarnya.