Grebeg Syawal Tanpa Arak-Arakan, Keraton Yogyakarta Bagikan 2.700 Tangkai Rengginang
Meski tahun ini berbeda, prosesi pembagian ubarampe tetap bermakna sebagai ungkapan rasa syukur dan sedekah dari raja kepada kerabat dan rakyatnya. Pelaksanaan grebeg pada zaman dahulu dilakukan dengan membagi-bagikan ubarampe gunungan, bukan dengan merayah atau merebut gunungan seperti yang dikenal saat ini.
"Dengan cara demikian, kerumunan massa akan terminimalisasi. Prosesi justru berjalan seperti pelaksanaan grebeg zaman dulu," tambahnya.
Upacara inti pada pembagian ubarampe tersebut serupa dengan prosesi grebeg yang umum dilaksanakan. Sebelum dibagikan, ubarampe lebih dahulu dirangkai dan diinapkan satu malam di Bangsal Srimanganti sejak Sabtu, (23/5/2020).
Seusai didoakan Abdi Dalem Kaji, ubarampe gunungan yang terdiri atas 2.700 tangkai rengginang selanjutnya didistribusikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Kepatihan, dan Puro Pakualaman. Ubarampe tersebut berjumlah sama dengan banyaknya rengginang yang disiapkan dalam gunungan estri dan gunungan dharat pada saat upacara grebeg sebagaimana mestinya.
Untuk distribusi rengginang ke seluruh abdi dalem, diberikan melalui penghageng setiap tepas/kawedanan supaya tidak menimbulkan kerumunan. Baik penghageng dan abdi dalem yang menerima ubarampe gunungan juga wajib menggunakan masker. "Mereka juga wajib mematuhi standar protokol kesehatan dengan mencuci tangan dan menjaga jarak," katanya.
Editor: Maria Christina