Wartawan Senior di Sumut, Sulap Rumahnya Jadi Museum Perjuangan Pers
"Saya sungguh meminta, jika Pak Bobby menang, bisa mengembalikan fungsi balai kota sebagai museum dan objek sejarah," harapnya saat itu.
Sesungguhnya, kedekatan TWH dan cita-citanya mendirikan Museum Pers karena dia adalah bagian yang tak terpisahkan dari profesi wartawan. Sejak kecil, TWH sudah akrab dengan dunia komunikasi. Apalagi ayahnya adalah Kepala Penerangan Tentara Resimen Divisi X yang juga seorang wartawan di Media "Seruan Kita".
Pada usia 16 tahun, TWH ikut jejak ayahnya menjadi wartawan di Aceh. Beberapa tahun kemudian, dia pun masuk menjadi tentara. Dalam rapat yang dilakukan Presiden Soekarno di Bireuen tahun 1948, dia ditugaskan menjadi Tentara Penerangan untuk penerimaan berita maupun foto, serta memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi Indonesia pada era kemerdekaan.
Setelah agresi Belanda berakhir, TWH pindah ke Medan. Tahun 1950, dia melanjutkan pendidikan di SMP Josua dan kemudian masuk ke SMA Tagore.
Usai pulang sekolah, TWH memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di Harian Mimbar Umum pada tahun 1954. Dia diterima di media itu. Tamat SMA, dia fokus menjadi wartawan sehingga bisa keliling wilayah Asia dan ASEAN.