Wartawan Senior di Sumut, Sulap Rumahnya Jadi Museum Perjuangan Pers
TWH bercerita, keinginan untuk membuat museum pers ini sudah lama diidamkannya. Tapi tak pernah kesampaian. Dia sudah menghubungi banyak orang, banyak pejabat, banyak tokoh dan pengusaha. Tapi di antara orang-orang yang dihubungi, tak banyak yang berminat atau membantu.
TWH pun letih sendiri. Akhirnya, dalam kegalauan, dia memutuskan menjadikan rumahnya sebagai Museum Perjuangan Pers Sumatera.
"Tak akar rotan pun jadi. Tak emas bungkal diasah. Tak jenjang kayu dikeping. Tak dapat numpang di Balai Kota Medan, ya di rumah sayalah," ujar TWH yang menjadi wartawan sejak tamat SMA, berpepatah.
TWH menuturkan, sejak museum ini dibuka tak banyak pejabat yang datang. Kalau dari kalangan praktisi pers, mana yang sempat saja. Tapi pelajar dan mahasiswa hampir dua ribuan yang berkunjung.
Ini yang membuat TWH senang. Apalagi beberapa mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dan beberapa universitas lainnya, menjadikan data di museum sebagai bahan skripsi mereka.