Nama-Nama Rumah Adat di Sumatera Selatan, Nomor 2 Pernah Tercetak di Uang Kertas
Rakit yang dibuat dapat menampung banyak orang dan barang, serta terlindungi dari panas dan hujan. Setiba di bagian hilir atau Palembang, rakit tersebut tidak dibawa kembali, bahkan dijadikan tempat tinggal dengan ditambatkan pada kayu atau tonggak besar di pinggir sungai.
Pada perkembangannya pada masa kesultanan, konon rumah rakit dibuat oleh pendatang yang tidak memiliki tanah. Pendatang dari berbagai daerah yang hendak menetap di Palembang namun tidak memiliki tanah, sehingga mendirikan tempat tinggal di atas air atau rumah rakit.
Nama rumah adat di Sumatera Selatan satu ini paling popular. Di banyak tempat di Kota Palembang mudah ditemukan rumah limas. Rumah limas juga terdapat di uang kertas pecahan Rp10.000.
Rumah limas tidak hanya berfungsi sebagai hunian saja, rumah limas juga mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan. Di setiap sudut rumah berbentuk panggung dan beratap limas, terkandung filosofi keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan Yang Maha Esa.
Rumah Limas awalnya dibangun sekitar tahun 1830 oleh Kepala Suku Bangsa Arab di masa Kolonial Belanda yang bernama Syarif Abdurrahman Al-Habsy. Banyak etnis yang terlibat dalam pembangunan Rumah Limas, seperti etnis Melayu, Jawa, Islam hingga Tionghoa.