Sejarah Perang Padri: Latar Belakang, Tokoh yang Terlibat dan Akhir Peperangan
Perang saudara yang berlangsung dari tahun 1803 hingga tahun 1821 yang telah merugikan kedua belah pihak baik harta maupun korban jiwa pun berakhir.
Setelah perang Diponegoro berakhir, kekuatan Belanda pun memulih dan kembali mencoba untuk menundukan Kaum Padri. Keinginan kuat Belanda untuk menguasai perkebunan kopi di kawasan pedalaman Minangkabau membuat mereka melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya dengan menyerang nagari Pandai Sikek.
Diketahui nagari Pandai Sikek merupakan daerah yang mampu memproduksi mesiu dan senjata api. Belanda juga membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi untuk memperkuat kedudukannya.
Pada tanggal 11 Januari 1833, Kaum Padri dan Kaum Adat yang telah bersatu melakukan penyerangan pada beberapa kubu pertahanan dari garnisun Belanda. Belanda yang menyadari keadaan telah berubah kemudian mengeluarkan "Plakat Panjang" berisi pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidak bermaksud untuk menguasai nagari tersebut, melainkan untuk berdagang serta menjaga keamanan.
Sebagai alasan Belanda dalam menjaga keamanan, membuat jalan, membuka sekolah dan memerlukan biaya, maka penduduk setempat diwajibkan menanam kopi serta menjualnya kepada Belanda.