Sejarah Rempah-Rempah Maluku, Aroma Kebangsawanan hingga Santapan Para Dewa
Rempah-rempah memang dapat disederhanakan sebagai sarana pengukur prestise ekonomi belaka pada masa tersebut. Terlebih mitos komoditas ini diyakini mewakili sesuatu yang eksotis nan magis, yaitu aroma kesucian yang disukai para dewa.
Jauh sebelum adanya bukti rempah-rempah dikonsumsi, komoditas ini telah digunakan dalam laku religius maupun magis. Rempah-rempah umumnya dibakar dalam dupa atau dilemparkan begitu saja ke dalam api di perapian arang kuil selama proses ritual keagamaan. Ada juga yang menjadikan rempah-rempah ini sebagai bahan wewangian dan salep yang dioleskan kepada patung pemujaan.
Seperti dikatakan Turner bahwa paganisme pada dasarnya identik dengan bau-bauan. Selain di festival-festival besar, aroma rempah-rempah, dupa dan wewangian juga meresap ke dalam seluruh bagian ritual agama kuno layaknya agama masuk ke dalam kehidupan.
Selain dewa-dewa Pagan, tampaknya dewa-dewa Romawi juga menyukai rempah. Ketika Hercules dalam puisi Seneca berterima kasih kepada dewa-dewa atas kejayaannya, dia memerintahkan disiapkan persembahan terbaik bersama rempah-rempah India. Dalam hal ini tentu yang dimaksud adalah rempah-rempah Nusantara yang dibawa melalui India.
Cengkeh, pala, dan kayu cendana juga digunakan dalam beberapa persiapan upacara suci. Dalam risalah dijelaskan, cengkeh, pala, dan kapur barus (tanpa sirih) merupakan campuran bahan obat untuk menghilangkan bau mulut.