Kisah Perjuangan Kapitan Pattimura, Sosok Cerdik dari Maluku Disegani Penjajah
Alih-alih untuk bisa mendapatkan keuntungan, rakyat Maluku justru semakin menderita dengan adanya kebijakan seperti pajak yang berat berupa penyerahan wajib (Verplichte leverantie) dan contingenten serta blokade ekonomi yang mengisolasi para rakyat Maluku dari pedagang-pedagang Indonesia lain.
Saat pemerintah Belanda mulai melaksanakan kekuasaannya melalui Gubernur Van Middelkoop clan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg, terjadilah perlawanan bersenjata dari rakyat Maluku. Kemudian diadakan musyawarah dan konsolidasi kekuatan di mana pada forum-forum tersebut menyetujui Pattimura sebagai kapten besar yang memimpin perlawanan tersebut.
Pada 7 Mei 1817 saat rapat umum Baileo negeri Haria, Thomas Matulessy dikukuhkan pada upacara adat sebagai “Kapitan Besar”. Setelah pelantikan, Pattimura memilih beberapa orang pembantu yang berjiwa kesatria di antaranya Anthoni Rhebok, Philips Latumahina, Lucas Selano, Arong Lisapaly, Melchior Kesaulya dan Sarasa Sanaky, Martha Christina Tiahahu dan Paulus Tiahahu. Pattimura bersama Philips Latumahina dan Lucas Selano melakukan penyerbuan ke benteng Duurstede.
Adanya berita tentang jatuhnya benteng Duurstede diterima oleh pasukan Pattimura dan pemusnahan orang-orang Belanda. Lalu informasi tersebut mengguncangkan dan membingungkan pemerintah Belanda di kota Ambon.
Pada 20 Mei 1817 diadakan rapat raksasa di Haia untuk pernyataan kebulatan tekad melawan Belanda. Peringatan tersebut dikenal dengan Proklamasi Porto Haria yang berisi pasal 14 pernyataan ditandatangani oleh 21 Raja Patih dari pulau Saparua dan Nusalaut