Kementan Gandeng IFAD Lakukan Supervisi Pantau Program Regenerasi Petani di Kalsel
Untuk menyukseskan program itu, Kementan menggandeng International Fund for Agricultural Development (IFAD). Kerja sama itu diharapkan bisa menciptakan wirausaha milenial tangguh dan berkualitas melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).
Kali ini tim IFAD melakukan “Supervision Mission IFAD” Program Yess di Kalimantan Selatan, selama 3 hari terhitung sejak Kamis (02/05/2024). Kunjungan Ifad ini dilaksanakan diberbagai tempat, diantaranya PPIU Kalsel, Kabupaten Tanah Laut, dan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Kunjungan lapangan ini untuk mengevaluasi implementasi Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) di Kalimantan Selatan. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program, dengan fokus khusus pada para penerima manfaat.
Salah satu perwakilan IFAD Thierry Maheoux mengatakan program YESS memang telah memberikan dampak positif di Kalimantan Selatan. Namun menurutnya masih dibutuhkan lebih banyak pendampingan, pelatihan, dan akses permodalan ke lembaga keuangan agar usaha para penerima manfaat dapat berkembang lebih lanjut.
Shazreh Hussain, Konsultan Targeting, Gender, dan Youth IFAD, menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam program YESS, dengan menyatakan bahwa minimal 50% dari penerima manfaat harus perempuan. Untuk mendukung hal ini, Hussain menyarankan perlunya adanya fasilitas yang ramah gender seperti taman bermain dan ruang laktasi di tempat-tempat pelatihan.
Selama 2 hari kunjungan lapangan, tim IFAD terjun langsung untuk menggali informasi tentang pengalaman Penerima Manfaat, dimulai dengan kunjungan ke kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar untuk mengumpulkan wawasan dari penerima Hibah Kompetitif. Di antara yang dikunjungi adalah Ernawati, pengusaha budidaya jamur, dan Bahrani, peternak ayam broiler.
Tim kemudian melanjutkan ke kecamatan Bati-Bati untuk mengeksplorasi dampak pelatihan Literasi Keuangan Dasar (LKD). Dalam serangkaian wawancara, IFAD juga menggali informasi dari penerima manfaat program YESS, seperti Ratna Hidayah, Mutia Zairinia, dan Awaluddin Marifatullah Kurau, untuk memperoleh pandangan yang lebih komprehensif tentang dampak program ini. Diskusi dengan fasilitator pemuda mobilizer, dan penerima manfaat LKD juga menjadi bagian penting dari evaluasi ini.
Editor: Ibnu Hariyanto