Sejarah Masjid At-Thohiriyah Tertua di Malang, Peninggalan Laskar Pangeran Diponegoro
Menariknya ketika proses penggalian fondasi itu, beberapa warga menemukan struktur batu bata sekitar ketinggian 3 meter dengan lebar 10 sentimeter yang diduga merupakan struktur peninggalan Kerajaan Singosari. Memang secara lokasi kata Moensif, kawasan Masjid Bungkuk ini bekas ibu kota Tumapel, yang sudah hancur ratusan tahun lalu.
"Jadi tiap bata dibongkar pakai kuas hancur lagi, dibongkar utuh lagi, dibongkar hancur lagi. Kenapa ini sisa-sisa Kerajaan Singosari yang saya bilang tadi Kerajaan Singosari dibangun di abad 12 dan punah abad 13. Artinya usianya sudah 700-800 tahun ya maklum sudah aus," ujarnya.
Tak sedikit pula dalam pembangunan masjid itu ditemukan beberapa artefak bebatuan yang diduga identik peninggalan Kerajaan Singosari, salah satunya batu gilang. Batu ini disebut dibuat untuk candi agar mempercantik bangunan candi.
Pada proses pembangunannya juga, empat tiang yang menjadi cikal bakal berdirinya masjid peninggalan sejak Kiai Hamimuddin juga dipertahankan. Tiang ini dibuat semi permanen dengan ditutup kayu jati untuk memperkokoh struktur asli masjid.
"Terus yang penyangga genteng ada empat kayu dengan kayu setebal 20 sentimeter kali 12 sentimeter, jumlahnya empat. Itu renovasi tahun 60-an. Cuma ini (bangunan lama peninggalan Kiai Hamimuddin) sama sekali tidak ada hubungannya, ini sudah konstruksi modern, tidak perlu kayu, tapi itu yang disisakan dari peninggalannya masjid kyai Hamimuddin," ucapnya.
Nama At-Thohiriyah sendiri diabadikan dari nama KH Thohir, yang merintis renovasi pertama masjid di kawasan Jalan Bungkuk RT 4 RW 4 Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Editor: Donald Karouw