Sejarah Masjid At-Thohiriyah Tertua di Malang, Peninggalan Laskar Pangeran Diponegoro
Pada akhirnya, lambat laun Kiai Hamimuddin mulai merintis pondok pesantren (Ponpes) yang menjadi cikal bakal Ponpes Miftahul Falah, Singosari. Perjuangan Kiai Hamimuddin dalam menyebarkan agama Islam ini dibantu oleh KH Thohir yang merupakan menantu Kiai Hamimuddin. Sosoknya merupakan keturunan dari Ponpes Canggaan di Bangil, Pasuruan.
"Dari masjid yang (renovasi) kedua tadi rupanya nggak bisa nampung lagi, jemaahnya makin lama makin besar. Karena jemaah salat Jumat saja nggak nampung sampai ke rumah warga ada di aula. Untuk urusan ibadah nggak ideal sehingga terpikir bagaimanapun harus dipugar, itu sekitar 16 tahun lalu," katanya.
Akhirnya masjid tertua itu pun diputuskan direnovasi dengan penambahan atap di lantai dua untuk menampung jemaah. Konstruksi pun didesain sedemikian rupa dengan menggunakan 41 fondasi. Satu fondasi untuk menara ditanam sedalam 3 meter, sedangkan lainnya ditanam sedalam sekitar 2 meter.
"Ketika diumumkan dan orang-orang mendengar Masjid Bungkuk ini mau dibangun orang berdatangan subuh dengan bawa linggis, bawa pacul, bawa apa saja yang dia punya, bukan orang jemaah sini, tahu betul saya bukan orang sini," ucapnya.
"Ternyata dengar orang datang dari mana-mana untuk ikut beramal ikut macul-macul bikin fondasi memang sudah ditetapkan 41 lubang dikasih kayu. Jadi orang sudah milih lubang sendiri-sendiri," katanya.