Politik Balas Budi Ken Arok usai Hancurkan Kerajaan Kediri
Ketika menjabat sebagai raja, Ken Arok menggunakan gelar Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra sebagaimana tercantum pada Kakawin Nagarakretagama atau Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi pada Serat Pararaton.
Sebagai raja bergelar Sang Amurwabumi, Ken Arok memiliki sifat bhairawa anoraga. Perkasa secara fisik dan lembut secara spiritual serta selalu membumi (bhumi sparsa mudra).
Dalam pengertian lain, kepemimpinan Ken Arok tetap berorientasi pada kerakyatan yang setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran dan senantiasa bersifat sosial.
Berkat sifatnya yang setia pada janji dan sadar berbalas budi, Ken Arok mengangkat Dang Hyang Lohgawe sebagai pendeta istana. Memberikan hak istimewa pada Bango Samparan dan anak-anak pandai besi di Lulumbang.
Dia juga memberikan hak istimewa pada anak Mpu Gandring. Di samping itu, Ken Arok pula menikahkan Wangbang Sadang, anak lelaki Dang Hyang Lohgawe dengan Cucu Puranti atau anak perempuan Bango Samparan.
Perihal Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Tumapel telah dicatat pada Prasasti Mula Malurung (1255). Dengan demikian keberadaan Ken Arok yang disebutkan dalam Serat Pararaton itu bukan fiktif, namun faktual secara historis. Sekalipun prasasti Mula Malurung tidak menyebut nama Ken Arok, melainkan Siwa.
Editor: Donald Karouw