Persentase Kematian Pasien Covid-19 di Blitar Lampaui Jatim, Ini Penyebabnya
"80 persen pasien positif Covid-19 yang dirujuk ke RS Ngudi Waluyo, kondisinya sudah parah. Rata-rata paru-paru pasien sudah dalam keadaan rusak dan sulit dipulihkan. Akibatnya, banyak pasien yang tidak tertolong," katanya.
Woro juga menyebut, RSUD Ngudi Waluyo merupakan rumah sakit rujukan di Kabupaten Blitar yang merawat pasien Covid-19 terbanyak. "80 persen saat dirujuk kondisinya sudah berat, 20 persen sedang. Kalaupun bisa sembuh perawatannya lama dan paru-paru rusak," ujarnya.
Faktor lainnya yakni persepsi masyarakat yang menganggap Covid-19 sebagai penyakit menakutkan sekaligus berdampak pengucilan. Akibatnya, ketika terdiagnosa Covid-19, banyak yang memilih pasif serta menutup diri karena khawatir dikucilkan.
"Akhirnya mereka memilih tidak memeriksakan diri. Akibatnya, penanganan medis baru diperoleh ketika kondisi pasien sudah parah.
Sebagai langkah pembenahan, mekanisme penanganan pasien positif Covid-19, yakni terutama sistem rujukan, menurut Woro mulai ditata ulang. Mulai temuan kasus, perawatan di puskesmas, isolasi di gedung isolasi hingga perawatan di rumah sakit, dibenahi.
Misalnya pasien dengan gejala ringan, harus segera mendapat perawatan di gedung isolasi. Kemudian pasien dengan gejala tertentu, yakni kategori sedang dan berat, harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas sesuai kebutuhan.
Woro juga mengatakan, dalam evaluasi, seluruh petugas medis spesialis penanganan Covid-19, berkomitmen melakukan audit pada setiap kasus kematian.
Editor: Ihya Ulumuddin