Perempuan-perempuan Jawa di Perang Diponegoro yang Bikin Belanda Ketakutan
1.Raden Ayu Serang
Dikenal juga dengan nama Nyai Ageng Serang (1769-1855). Dia merupakan ibunda Pangeran Serang II, yang sekaligus keturunan dari Sunan Kalijogo. Nyai Ageng Serang merupakan istri Pangeran Serang I, seorang pejabat Serang, sebuah daerah terpencil di kawasan pantai utara yang berdekatan dengan Demak.
Pada awal Perang Jawa pecah (1825), laporan militer Belanda menyebut Nyai Ageng Serang memimpin pasukan berkekuatan 500 orang di kawasan Serang-Demak.
Nyai Ageng yang biasa bersemedi di gua-gua sunyi pantai selatan, dikenal memiliki ilmu kanuragan tinggi. Nyai Ageng Serang menyerah pada 21 Juni 1827, namun kompeni Belanda masih terus mengawasinya.
Pascperang Diponegoro berakhir pada Maret 1830, Nyai Ageng diam-diam masih berhubungan erat dengan orang-orang di Demak. Doa membagi-bagikan rajah atau jimat yang dikhawatirkan Belanda akan membangkitkan kenangan lama.
Kompeni Belanda merasa lega setelah Nyai Ageng meninggal dunia pada usia 90 tahun.