Pemkot Malang Mulai Gelar Sekolah Tatap Muka, Sebagian Wali Murid Masih Keberatan
Wali Kota Malang Sutiaji mengakui perlu adanya koreksi dari empat sekolah yang ditinjaunya dari segi penerapan protokol kesehatan. Terutama saat siswa sudah berada di dalam lingkungan sekolah, dimana potensi kerumunan masih terjadi saat proses pengecekan suhu tubuh dan mencuci tangan.
"Pertama itu tidak terjadi kerumunan keluar dan masuk. Seperti di SD Kauman, karena SD Kauman masuk banyak saya suruh bagaimana cuci tangannya, jadi tadi disuruh cuci tangan dulu baru thermogun. Mungkin nanti dibalik, thermogun dulu, baru cuci tangan, dan seterusnya," ujarnya.
Pihaknya juga masih menemukan adanya guru dan siswa di SDN 1 Kauman, yang tidak menggunakan masker dengan alasan adanya pembelajaran menyanyi sehingga memerlukan mimik dan mengetahui intonasi.
"Tadi ada pembelajaran menyanyi. Namanya vokal, harus tahu mimiknya. Maka saya sampaikan tadi kan sempat dibuka (maskernya), gurunya membuka (masker), muridnya juga membuka (masker), karena belajar. Saya sampaikan, tolong pada saat belajar mengaji dan menyanyi, gurunya pakai face shield, kemudian muridnya juga begitu. Face shield ini tidak boleh bergantian, seperti memakai masker. Itu tadi ada koreksi," katanya.
Evaluasi berikutnya saat siswa keluar sekolah, Sutiaji meminta pihak sekolah mengatur proses keluarnya siswa agar tidak terjadi kerumunan, yakni dengan interval waktu antara satu kelas dengan kelas lainnya.