Nasib Pilu Warga Tionghoa di Awal Kemerdekaan, Tak Bisa Rayakan Imlek karena Menderita
Orang-orang Tionghoa menganggap sangat keterlaluan bila mereka bergembira, sementara saudara-saudara mereka sedang tertimpa bencana. Bahkan banyak yang kehilangan harta dan jiwa sanak familinya. “Maka tahun baru Imlek waktu itu tidak mereka rayakan," kata Marcus AS.
Pada tahun 1948, Imlek juga belum bisa dirayakan. Orang-orang Tionghoa yang belum menjadi warga negara Indonesia terbebani perang saudara yang berkecamuk di Tiongkok.
Harapan mereka tentang cita-cita “Satu Tiongkok” makmur, buyar. Begitu juga dengan tahun 1949. Belanda melancarkan agresi militer ke dua dan banyak orang Tionghoa menjadi korban.
Tidak sedikit rumah-rumah orang Tionghoa dibakar. Banyak yang kehilangan harta, nyawa maupun sanak famili. Banyak yang kemudian tidak memiliki tempat tinggal, bercerai dan kehilangan anak.
Beribu-ribu orang berada dalam situasi mencekam sekaligus kekurangan sandang pangan. "Tahun baru (Imlek) masih dianggap tidak pantas untuk dirayakan," kata Marcus AS.
Lepas dari tahun 1949, situasi Indonesia berangsur-angsur membaik, sehingga pada saat itu orang-orang Tionghoa mulai berani merayakan tahun baru Imlek, meskipun tidak secara besar-besaran.
Editor: Ihya Ulumuddin