Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Cap Go Meh Manado Dipadati Ribuan Warga, 10 Tangsin Tampilkan Atraksi Ekstrem
Advertisement . Scroll to see content

Nasib Pilu Warga Tionghoa di Awal Kemerdekaan, Tak Bisa Rayakan Imlek karena Menderita

Jumat, 28 Januari 2022 - 15:10:00 WIB
Nasib Pilu Warga Tionghoa di Awal Kemerdekaan, Tak Bisa Rayakan Imlek karena Menderita
Kampung Pecinan lama di Surabaya. (foto repro) .
Advertisement . Scroll to see content

BLITAR, iNews.id - Tahun baru Imlek atau Sin Cia ternyata belum pernah dirayakan masyarakat Tionghoa Indonesia di awal masa kemerdekaan 1945. Kondisi ekonomi yang sulit akibat penjajahan Jepang membuat mereka harus menahan diri untuk tidak merayakan Imlek. 

Saat itu, banyak masyarakat Tionghoa yang hidup menderita. Bahkan, pada pendudukan Jepang (1942-1945), banyak warga Tionghoa yang ditangkap, dipenjara kemudian tidak jelas nasibnya.

Marcus AS dalam buku “Hari-Hari Raya Tionghoa” menyebut, Imlek belum bisa dirayakan karena situasi negara di awal kemerdekaan belum sepenuhnya kondusif, terutama di Jakarta dan sekitarnya. "Situasi negara ketika itu belum tentram dan di Jakarta masih terjadi zaman “siap-siapan”," tulis Marcus A.S

“Siap-siapan” merupakan istilah yang merujuk pada peristiwa serangan mendadak dari musuh, biasanya serangan dari penjajah Belanda maupun Jepang. Setiap terjadi serangan, orang biasanya akan berteriak :Siap!Siap!. “Kemudian kita menamakan zaman siap-siapan,” kata Marcus  dalam “ Hari-Hari Raya Tionghoa”

Tidak heran bila saat itu banyak orang Tionghoa yang tidak berani berziarah ke makam leluhurnya. Situasi terus berlanjut hingga permulaan tahun 1947. Meletusnya insiden-insiden di sekitar wilayah Tangerang pada tahun 1946 membuat Imlek juga tidak lagi dirayakan.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut