Mengenal Rumah Tjokroaminoto di Surabaya, Dapur Peracik Nasionalisme Soekarno
“Bung Karno mengakui, saat di Surabaya ia menulis tidak kurang dari 500 tulisan yang dimuat di surat kabar. Di rumah Tjokroaminoto itu pula Sukarno mengenal Alimin, Muso, Semaun dan SM Kartosuwiryo yang memiliki ideologi berbeda-beda,” tuturnya.
Di usianya yang ke 20 tahun, Sukarno sudah matang secara politik dan ideologi. Sehingga pada saat itulah Sukarno menemukan ideloginya sendiri yaitu Marhaenisme yang melambangkan kepribadian nasional.
Di dalam media massa Fikiran Ra’jat tanggal 1 Juli 1932 No.1 tertulis, Marhaen adalah ideologi yang meliputi kelompok miskin Indonesia, baik buruh atau bukan, termasuk petani miskin yang tidak bekerja untuk siapapun melainkan hanya untuk sehari-harinya.
"Secara detail di dalam buku Adams 2014: 90 tertulis, Marhaenisme merupakan Sosialisme Indonesia, gabungan dari Nasionalisme, Agama, dan Marxisme yang ditambah dengan Gotong Royong,” kata Purnawan.
Pada 4 Juli 1927, Sukarno bersama dengan dr Tjipto Mangunkusumo, Mr Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadikusumo, dan Mr Sunaryo mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, yang pada tahun 1928 berganti menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).