Kisah Terbunuhnya Pejabat Majapahit Patih Nambi karena Fitnah Mahapati
Beberapa sejarawan termasuk Slamet Muljana percaya bahwa Mahapati yang menghasut Raja Jayanagara untuk melaksanakan serangan ke Nambi adalah Dyah Halayudha. Sosok itu adalah nama patih Majapahit yang tertulis pada Prasasti Sidateka pada tahun 1323.
Apabila dugaan itu benar, tokoh Mahapati atau Halayudha bukan orang biasa. Dia masih keluarga bangsawan. Gelar 'Dyah' yang dipakai setara dengan raden pada zaman berikutnya. Misalnya pendiri Majapahit dalam Negarakertagama disebut Dyah Wijaya sedangkan dalam Pararaton disebut Raden Wijaya.
Sementara itu Nambi dan Lembu Sora, pada Prasasti Sukamreta hanya bergelar empu. Maka dapat dipahami keduanya bukan dari golongan bangsawan namun memperoleh kedudukan tinggi masing-masing sebagai patih Majapahit dan patih Daha.
Dia pun melancarkan aksi fitnah dan adu domba sehingga satu persatu para pahlawan pendiri kerajaan tersingkir. Bahkan di masa Raja Jayanagara yang menjadi raja selajutnya Majapahit, diceritakan sang raja kerap kali dipengaruhi oleh Dyah Halayudha atau sering disebut sebagai Mahapati dalam kitab kuno.
Mahapati dikenal sebagai patih licik yang menghalalkan segala cara. Kebijakan-kebijakan raja banyak dipengaruhi oleh hasutan Dyah Halayudha, sehingga para pejabat Majapahit banyak yang sengsara pada zaman ini.