Kisah Kerajaan Pajajaran Terpuruk akibat Korupsi dan Proyek Ambisius Raja
Bahkan Saleh Danasasmita dalam bukunya "Mencari Gerbang Pakuan" mengisahkan saat Prabu Nilakenda memerintah selama 16 tahun, keadaan kerajaan sudah sedemikian parah.
Korupsi dan penyelewengan merajalela karena salah urus. Tanah Sunda yang subur namun salah kelola itu menyebabkan rakyatnya mengalami kelaparan dan kemiskinan.
Dikisahkan para petani di Pajajaran semasa Prabu Nilakenda memerintah menjadi serakah akan makanan, sehingga mereka tidak merasa tentram jika menanam sesuatu.
Korupsi dan penyelewengan pun merajalela. Hal ini diperparah dengan pembangunan proyek- proyek ambisius sang raja.
Proyek mempercantik istana kerajaan dengan emas menjadi satu hal yang disoroti rakyat kala itu. Sang raja konon memiliki hobi pesta pora sampai mabuk-mabukan.
Gambaran singkat miris disampaikan penulis Carita Parahyangan dengan kalimat singkat: Itulah bunga pralaya yang disebut zaman kali atau zaman kaliyuga.
Zaman pralaya diartikan sebagai zaman kehancuran. Pada akhirnya, Kerajaan Pajajaran benar-benar hancur pada 1579. Saat itu kerajaan dipimpin pemerintahan Ragamulya Suryakencana yang bertahta 1567 hingga 1579.
Editor: Reza Yunanto