Cerita Sutawijaya, Jadi Raja Mataram Islam usai Melihat Betis Indah Ratu Pantai Selatan
Sutawijaya juga menanam beringin kurung di alun-alun dan tiga kali tidak hadir dalam acara Perapatan Agung yang digelar Sultan Hadiwijaya. Apa yang dilakukan Danang Sutawijaya ditafsirkan sebagai upaya pembangkangan terhadap Pajang.
Usai ditegur Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan langsung datang ke Kademangan Mataram untuk menemui Danang Sutawijaya. Ki Ageng Pemanahan sontak memarahi putra lelakinya.
"Apa maksudmu membangun benteng tinggi yang mengitari kademangan?, apa maksudmu memelihara beringin kurung?, apa maksudmu memperkuat prajuritmu? Lekas jelaskan!," bentak Ki Ageng Pemanahan seperti ditulis Krishna Mihardja dalam buku "Di Antara Kali Progo Dan Kali Opak".
Melihat murka ayahnya, di pendopo Kademangan Mataram tersebut, Sutawijaya kaget dan seketika terdiam. Sejurus kemudian dia baru berani membuka suara. Sutawijaya beralasan, apa yang dilakukan semata untuk mendapatkan keindahan dan ketentraman di Kademangan Mataram.
"Tidakkah kau tahu bahwa mendirikan benteng tinggi mengitari sebuah wilayah dan memelihara beringin kurung di alun-alun hanya diperbolehkan bagi seorang raja?," sergah Ki Ageng Pemanahan. "Itulah sebabnya aku dipanggil ke kraton Pajang. Itu gara-gara ulahmu yang ingin menyaingi kraton Pajang. Mengerti!," katanya.