Cerita Ngatijan, Selamatkan Pasukan Elite TNI AU dari Pembantaian di Papua
Penerjunan baru bisa dilakukan dua hari kemudian yakni, pada 19 Mei di daerah Teminabuan. Sersan Udara Satu Rebo Hartono yang ikut dalam operasi tersebut menceritakan, sebelum dilakukan penerjunan pasukan PGT terlebih dahulu diberi tahu soal operasi merebut Papua.
"Siapa yang mau terjun duluan? Enggak ada yang ngacung. Lalu Pa Leo Wattimena menendang Pa Kani. He…Berangkat PGT. Pa Kani itu orang kebal. Orang-orang PGT yang kebal-kebal ada empat yaitu, Pa Wiriadinata, Pak Sukani, Pak Soeroso dan Ngatijan," kenang Rebo dalam buku tersebut.
Saat penerjunan di Teminabuan pada dini hari tersebut, ucap Rebo, dirinya mendengar suara tembak-tembakan di bawah. Rebo sendiri mengaku jatuh tersangkut di pohon dengan ketinggian lebih dari 30 meter.
Prajurit Pasukan khusus yang kenyang dengan pengalaman tempur menumpas pemberontak DI/TII, Kahar Mudzakar dan Permesta ini kemudian membuang helm dan ranselnya. Perlahan Rebo berupaya turun ke bawah di tengah malam yang gelap gulita.
Nahas, dahan pohon yang didudukinya patah. "Saya melorot jatuh ke bawah kurang lebih 30 meteran. Kurang lebih setengah jam saya pingsan. Begitu bangun saya lihat senjata masih diselempang. Di mana ini kok masih gelap? Tapi suara tembak-tembakan masih ramai,” ucapnya.