UGM Temukan Alat Pengolah Limbah Produksi Batik
"Alat ini mampu menghasilkan limbah menjadi air yang bersih. Minimal air yang dihasilkan bisa untuk dipakai dalam proses produksi batik," kata Roto usai acara Desa Batik Sehat di rumah produksi batik “Farras” di Gulurejo, Lendah, Kulonprogo, Rabu (22/1/2020).
Menggunakan energi listrik, mesin ini mampu menampung limbah cair dengan kapasitas 50 liter. Sementara elektroda yang terpasang mampu mempercepat endapan limbah batik. Hanya butuh waktu antara 30 hingga 50 menit untuk menghasilkan air yang bisa mendekati dengan ambang baku.
Untuk memproduksi satu alat ini dibutuhkan biaya sekitar Rp100 jutaan. Roto menegaskan, mesin ini bersifat portable alias bisa dipindah-pindah.
"Ke depan kami sempurnakan agar menghasilkan air yang jauh leih baik lagi," ujarnya.
BACA JUGA: Miris, Nenek yang Diseret di Pasar Gendeng Yogyakarta Hidup Sebatang Kara