Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Pengamat: Bukan Hanya Eksekutor Lapangan
“Misalkan peran mereka itu sebagai motivator, seperti yang ada di Makassar (bom bunuh diri di depan Gereja Katedral). MM (terduga teroris) untuk meyakinkan YSF dan L (pengantin baru pelaku bom bunuh diri Makassar),” kata dia.
Dia melanjutkan, peran perempuan selanjutnya dilakukan melalui bidang pendidikan. Terlebih di sekolah-sekolah berpaham radikal, peran pendidik sangat berpengaruh untuk membentuk karakter anak.
“Ada peran (perempuan) lagi sebagai educator, sebagai pendidik dan itu ada perempuan. Saya mencontohkan proses radikalisasi sampai berujung pada terorisme itu sudah dimulai dari pendidikan yang secara formal di sekolah-sekolah yang radikal,” ujarnya.
“Misalkan istilah jihad. Anak kecil sudah dikatakan jihad Allahu Akbar. Padahal Allahu Akbar itu benar, jika untuk salat. Tapi Allahu Akbar untuk merusak itu menjadi tidak benar. Inilah peran edukator,” katanya.
Selain itu, peran lain perempuan juga dilibatkan dalam penggalangan untu mendukung aksi terorisme. Termasuk menjadi kurir hingga penyedia logistik bagi kaum pria yang dianggap berjuang (aksi terorisme).
“Kemudian menjadi fund riser atau penggalangan dana, menjadi logistic supplier atau suplai logistik. Kemudian menjadi agen, menjadi kurir, itu yang dilakukan istrinya Noordin M Top, istrinya Doktor Azhari, istrinya Santoso,” ujarnya.
“Tapi kan mereka tidak kelihatan di permukaan, tidak terekspos di media, yang terekspos adalah mereka yang melakukan aksi di arena terbuka, yang di lapangan. Seperti pelaku bom bunuh diri ini. Makanya saya menyebut keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme adalah hidden threat atau ancaman tersembunyi,” katanya.