Guru Besar UGM Minta Perokok di Indonesia Lebih Waspada Hadapi Covid-19
Dalam jurnal kesehatan yang dibuat di China, perokok pria yang cukup tinggi jumlahnya sekitar 50 persen. Di sana angka kematian yang dilaporkan banyak terjadi pada pria usia tua. Oleh sebab itu, kemungkinan perokok terwakili dalam kematian cukup tinggi.
Sementara di Iran, China, Italia dan Korea Selatan jumlah perokok wanita jauh lebih sedikit dibandingkan pria. Fakta juga menunjukkan lebih sedikit wanita yang tertular virus corona.
“Kalau analisis ini benar, maka Indonesia diprediksi akan terjadi peningkatan pasien Covid-19 karena prosentase perokok pria di atas 60 persen,” ujarnya.
Para perokok rentan terinfeksi virus, salah satunya dikarenakan dari aktivitas merokok itu sendiri. Merokok melibatkan kontak jari tangan dengan bibir secara intens. Hal ini membuka peluang bagi virus untuk berpindah dari tangan ke mulut.
Merokok juga menyebabkan produksi lendir berlebih dan menurunkan proses pembersihannya pada saluran napas. Merokok juga memicu timbulnya peradangan sehingga lebih rentan terhadap infeksi virus.
“Resiko ini tidak hanya perokok tradisional, yang mengguakan vape juga," katanya.
Untuk itu, Yayi, meminta masyarakat, khususnya perokok untuk segera berhenti merokok. Hal tersebut sesuai dengan imbuan yang dikeluarkan WHO maupun CDC.
Editor: Nani Suherni