Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bahagia di Hari Raya! 1.381 Napi DIY Dapat Remisi Idul Fitri, 17 Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

Filosofi Ketupat di Hari Raya Idul Fitri

Minggu, 24 Mei 2020 - 04:05:00 WIB
Filosofi Ketupat di Hari Raya Idul Fitri
Ilustrasi ketupat. (Foto: istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Setelah sebulan penuh berpuasa di Bulan Ramadan, umat Islam di seluruh penjuru dunia hari ini, Minggu (24/5/2020) merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Takbir, tasbih dan tahmid berkumandang dan bersahut-sahutan di tiap masjid, musala, surau, maupun di rumah. Muslim mengumandangkan kebesaran Allah SWT sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan.

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri identik dengan ketupat. Makanan khas yang terbuat dari beras dan berbungkus janur atau daun kelapa yang masih muda berbentuk segiempat itu ternyata bukan sekadar hidangan yang wajib ada di momen Lebaran.

Dikutip dari Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah0KTB, ketupat atau kupat ternyata memiliki filosofi yang tinggi. Dalam bahasa Jawa, kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Selain kupat, tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman, yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, masih membudaya hingga kini. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, serta memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khsusnya ridho orang tua.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut