Cerita Perjuangan Hidup Mati Dokter Bedah Sembuh dari Covid-19, Sempat Hampir Menyerah

Terlewati sudah masa-masa kritis. Terlewati sudah pertarungan antara hidup dan mati. Dia akhirnya sudah bisa merasakan empuknya nasi, tidak keras lagi seperti sebelumnya.
"Alhamdulillah saya bersyukur sekali bisa mendapatkan tosilizumab dan plasma. Dari pengalaman masa isolasi kemarin, terbukti acterma dan plasma sangat cocok mengobati pasien CovidD-19, bahkan yang memiliki komorbid diabetes," katanya.
Saat ini, kondisi Sriyanto sudah membaik dan sedang masa pemulihan. Begitu pula dengan anak semata wayangnya. Mereka berdua bahkan sudah pulang ke Wonogiri dan sudah bisa bersepeda di sekitar rumah.
"Namun, sedihnya kondisi ayah mertua tak dapat tertolong. Beliau tak bisa bertahan dan mengembuskan napas terakhir pada tanggal 21 November 2020. Beliau dimakamkan secara protokoler Covid-19," katanya.
Sriyanto menceritakan, saat mendengar kabar duka itu, dirinya sedang berada di ruang isolasi. Semua kesedihan sepertinya menimpa dirinya, mulai tak bisa menelan makanan, demam tinggi, batuk parah, anak diisolasi, dan mertua meninggal. Rasanya segala kepedihan muncul bersamaan.