Di tengah kesuburan pohon tersebut, terdapat pohon asam yang jarang (bahasa Jawa: asem arang) yang lantas wilayah itu menjadi cikal bakal nama “Semarang”.
Kenapa Masalah Banjir Kali Babon Sulit Teratasi? Ini Penjelasan Wali Kota Semarang
Dalam buku yang diterbitkan Yayasan Sosial Sunan Pandanaran Semarang, selaku pengelola makam Ki Ageng Pandanaran diceritakan, Ki Ageng Pandanaran merupakan cucu dari Pangeran Suryo Panembahan Sabrang Lor (Sultan kedua Kesultanan Demak), putra dari Maulana Ibnu Abdul Salam atau Pangeran Madiyo Pandan.
Awal perjuangannya sebagai penyiar agama Islam ketika diutus Sunan Kalijaga dakwah di area Semarang, yang dulunya masih berupa alas, serta karang pinggir pantai.
Wali Kota Semarang Mengadu ke Ganjar Minta Kerusakan Jalan segera Diperbaiki
Ki Ageng berhasil meng-Islamkan sejumlah penduduk yang dulu masih memeluk agama Hindu, termasuk istrinya bernama Endang Sejanila putri dari Pendeta Pragota.
Kemudian, penamaan Kota Semarang, berasal dari ujarannya ketika dakwah di daerah Bubakan. Berawal ketika melihat pohon asem (asam) yang tumbuhnya jarang namun subur. Keanehan pohon asam yang tumbuhnya jarang tersebut diberikan nama Semarang.