Sunda Wiwitan, Kepercayaan Monoteisme Warisan Leluhur
Maka, Sunda Wiwitan disebut sebagai ajaran agama dengan unsur monoteisme purba. Selain percaya kepada Sang Hyang Jati Tunggal atau Tuhan Yang Maha Esa, Sunda Wiwitan juga mengajarkan tentang aturan moral dan etika, hidup harmonis dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Kearifan lokal masyarakat Sunda terhadap alam masih dipegang teguh sampai saat ini.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, dulu kala, orang Sunda bukanlah penganut Hindu atau Buddha yang berkembang pada abad 1 Masehi, melainkan penganut animisme, yaitu kepercayaan yang menghormati arwah leluhur.
Namun dalam perkembangannya, kepercayaan orang ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu dan sampai kepada Islam. Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran "Jatisunda".
2. Sistem Kepercayaan
Kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Maha Kuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Maha Berkehendak). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Sang Hyang Kersa atau Tuhan Yang Maha Kuasa bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala.
Tidak heran jika masyarakat Sunda tidak begitu mengenal pendirian candi atau pura. Sebab, orang Sunda bukan penganut Hidu dan Buddha. Sang Hyang Kersa tidak dipuja di sebuah tempat.