2. Telapak Kaki Misterius di Batu Nyongclo
Merupakan jejak Raden Angkawijaya. Sedangkan, jejak kaki besar merupakan jejak kaki pamannya, yaitu Catur Lintang. Menurut legenda, sekitar abad ke-4 M Pangeran Angkawijaya dan pamannya singgah di Batu Nyongclo untuk persiapan selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanan ke bukit meditasi.
Sang Prabu ingin anaknya menjadi ksatria yang baik. Sehingga, sejak berusia empat tahun sang pangeran telah bepergian dengan bantuan pamannya.
Bukit tempat Pangeran Angkawijaya dan pamannya bertapa disebut Bukit Palasari. Bukit ini merupakan kawasan hutan tak jauh dari Batu Nyongclo.
Jejak kaki di batu tersebut merupakan bukti, pangeran dan pamannya telah menyelesaikan pelatihan. Namun anehnya, jejak kaki itu timbul ke atas bukannya tenggelam. Dua pertapa itu tidak hanya meninggalkan jejak kaki, tetapi juga menanam Hanjuang atau Andong (Cordyline) di sekitar Batu Tapak.
Dalam masyarakat Sunda, tanaman Hanjuang memiliki arti ‘filosofi’ dan menandai batas antara sakti dan tidak sakti.