Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kasus Pembunuhan Janda di KBB Dihentikan, Pelaku hanya Diancam 7 Tahun Penjara
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Ahli Pengobatan Tulang Citapen KBB yang Terkenal Sejak 1950, Berawal dari 2 Sahabat

Sabtu, 14 Mei 2022 - 16:26:00 WIB
Kisah Ahli Pengobatan Tulang Citapen KBB yang Terkenal Sejak 1950, Berawal dari 2 Sahabat
Pasien sedang menjalani pengobatan alternatif patah tulang di Citapen, Cihampelas, KBB. Kawasan ini terkenal sejak tahun 1950-an sebagai tempat pengobatan berbagai masalah tulang. (Foto/MPI/Adi Haryanto)
Advertisement . Scroll to see content

Tokoh Desa Citapen, Abah Aso (74) membenarkan jika dulunya ada kedua sahabat tersebut yang dipercaya oleh masyarakat bisa menyembuhkan kalau ada masalah tulang keseleo, bergeser, atau patah. Lalu semakin ke sini banyak yang memiliki keahlian itu sehingga membuka praktik. 

"Dulunya daru Mama Hamidi dan Mama Haji Tarma, mereka sahabatan. Kalau ada masalah tulang dibawa ke mereka," kata Abah Aso. 

Keahlian kedua orang itu lambat laut terkenal kemana-mana sehingga banyak pasien luar daerah datang ke Citapen. Terlebih Mama Hamidi dan Mama Haji Tarma tak pernah mematok tarif kepada pasien. Bahkan, kalaupun ada yang kurang mampu tetap bantu. "Awalnya sekitar tahun 1950-an, banyak yang datang dari mana-mana," ujarnya. 

Kepala Desa Citapen Iwan Kristiawan menambahkan, nama Citapen sebagai lokasi penyembuhan masalah tulang, telah dikenal di Bandung Raya bahkan mungkin Jawa Barat. Sebab pasien yang datang ada dari Garut, Sukabumi, Cianjur, Indramayu, hingga Subang.

Pelaku bengkel patah tulang di Citapen memiliki keahlian dengan belajar autodidak, belajar dari pendahulunya, hingga membaca beberapa literatur. Namun pengobatan tradisional melalui terapi pijat dan urut yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu kini jumlahnya dari tahun ke tahun terus menyusut.

"Rata-rata pelaku terapis patah tulang di Citapen merupakan keturunan dari pendahulunya, paling sekarang tinggal 15-25 orang. Jumlahnya memang terus turun, padahal kami punya mimpi pengobatan tradisional ini bisa dilestarikan dan didukung oleh pemerintah jadi ciri khas daerah," tuturnya.

Editor: Agus Warsudi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut