Di Sidang Kasus Penganiayaan, Habib Bahar Ngaku Cucu ke-29 Nabi Muhammad
"Tetapi kalau selain daripada urusan pribadi, beliau tidak pernah diam. Ada yang mengaku nabi palsu dibunuh oleh beliau, dibunuh yang mulia dan itu bukan hanya zaman nabi," tutur Habib Bahar lagi.
Di zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq, kata Bahar, beliau pernah menyuruh memotong tangan perempuan yang pernah menghina Rasulullah. Di zaman Sayyidina Umar bin Khattab pernah membunuh orang yang mengina Rasulullah.
"Jadi, Rasulullah selama masalah pribadi beliau memaafkan dan tidak pernah mempermasalahkan. Saya yang mulia, saya buka di sini, berapa banyak orang yang mencaci maki saya, saya tidak pernah membalas dengan cacian dan makian," kata Bahar.
Lantaran diberi kesempatan untuk bicara, Bahar semakin panjang lebar melontarkan pernyataan. "Bahkan sampai-sampai barusan yang mulia, ada di Singkawang, ada orang yang menghina saya dan di media sosial dia hina saya kemudian dilaporkan. Saya bikin surat yang mulia, saya bikin surat untuk saya mohon kepada majelis hakim Singkawang untuk membebaskan yang sudah menghina saya karena saya sudah memaafkan dia dan dia tidak memiliki salah kepada saya karena saya sudah memaafkan siapapun yang menghina pribadi saya asalkan tidak menghina agama saya," ujarnya.
"Kedua, di Bogor itu kasus yang ditangani oleh Bu Anita, jaksa. Nah, ibu Anita pernah menangani kasus seorang perempuan yang dilaporkan oleh anak-anak saya. Saya gak tau yang mulia," tutur Bahar.
"Dia dilaporkan karena menghina saya di media sosial. Akhirnya saya bikin surat pernyataan bahwasanya saya tidak rela atau tidak rida kalau wanita itu ditahan. Saya minta tolong perempuan wanita itu dibebaskan dan kalaupun diadili mohon divonis bebas. Itu saya yang mulia dan itu bisa ditanyakan kepada jaksa Bu Anita dan bisa ditanyakan ke korban," ungkap dia.
"Dan banyak lagi orang yang menghina saya, yang mau diburu sama anak saya, saya yang marah. Kalau pribadi saya ga papa, saya Ridha tapi mohon maaf kalau saya sudah urusan agama, urusan istri saya, urusan ibu saya, urusan saudara perempuan saya, saya tidak bisa yang mulia. Tapi kalau pribadi saya dihina dan dicaci insya Allah, kakek kami mengajarkan itu," tandas Bahar.
Editor: Agus Warsudi