Bisik Sunyi Apun, Kesaksian Perempuan Cantik tentang Sejarah Cianjur Nan Dramatik
Hendi Jo yang juga salah satu anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur itu, dalam beberapa catatan sejarah, Aria Wiratanu Datar III tersohor sebagai mitra dagang VOC yang paling setia. Adalah komoditas kopi yang menjadi andalannya untuk berbisnis dengan Maskapai Dagang Hindia Timur tersebut.
Begitu puasnya VOC dengan pelayanan Aria Wiratanudatar III hingga dua Gubernur Jenderal VOC, yakni, Christoffel van Swol (1713-1718) dan Hendrick Zwaardecroon (1718-1725) menghadiahinya wilayah-wilayah baru, Distrik Jampang dan Distrik Sagara Kidul.
“Dia pun mendapat gelar bekende grooten koffi leverancier (distributor besar kopi yang termasyhur), seperti ditulis Otto van Ress dalam Overzigt van de Geschhiedenis der-Pranger Regentschappen (Sejarah Para Bupati Priangan),” tutur Hendi Jo.
Berbeda dengan pandangan para pejabat VOC, sebagian besar rakyat, terutama para petani kopi, justru menyimpan kebencian kepada Aria Wiratanudatar III. Sikap keras Aria Wiratanudatar III terhadap para petani kopi menjadi penyebab kebencian itu muncul.
Mengutip Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dalam Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870, Hendi Jo menyebutkan, dalam praktiknya, VOC bekerja sama dengan bangsawan lokal untuk menindas rakyat. Selain itu, dalam menjalankan bisnis kopinya, Aria Wiratanudatar III dinilai tidak jujur dengan mengambil laba terlalu banyak dari para petani.